Kamis, 15 April 2021

Bapak Sedo

Hari itu Selasa Pon, 23 Maret 2021 10 Sya’ban 1442 H, tidak seperti biasanya, perasaan tidak enak dan tangan ini terasa dingin, seperti ada firasat yang kurang enak, saat masuk kerja sengaja aku parkir motor pada posisi paling depan agar saat keluar tidak terhalang motor lain, dalam hati berniat pulang awal untuk menjenguk kondisi Bapak.

Jam 11 siang HP Nokia 105 ku berdering, diujung telpon Bapak bicara dengan nada yang jelas minta nanti sore dibelikan obat pelancar kencing, aku sarankan agar bapak minum air putih saja yang cukup, mengingat sudah banyak obat yang pelu diminum selepas periksa ke dokter Laurenz (spesialis Paru) empat hari sebelumnya.

Perasaanku agak tenang mendengar bicara bapak yang masih jelas, aku lanjutkan aktifitas kerja seperti biasa. Sementara di rumah Bapak ada istri dan adikku yang menjaga Bapak, sebelumnya memang Bapak berpesan agar tiap hari aku datang ke rumahnya.

Jam setengah 2 istriku berkabar lewat telegram kalau Bapak menanyakan kapan aku datang, jam 2 memang sudah aku niatkan untuk pulang awal, tapi ada tugas mendadak yang harus aku selesaikan jam itu juga. Setiap menit istriku selalu berkabar kalau Bapak nafasnya sesak dan menanyakan aku terus, sampai jam 3 sore aku ijin untuk pulang awal.



Sampai di rumah Bapak ternyata Bapak telah berpulang ke rahmatullah, masih hangat saat kupegang tangan dan tubuhnya, tak ada lagi nafas berat dan sesak, hanya wajah cerah dan damai yang terlihat, semoga sakit yang diderita Bapak bisa menghapus semua dosa – dosanya, dan kesabarannya berbuah pahala, Semoga khusnul khotimah Aamiin, kami ikhlas melepasmu pulang kehadiratNya,

Al Fatikhah